PEDAGANG BERAGAM PLASTIK. Seorang pedagang, Ferbian Aris Sandi di salah satu toko grosir Pasar Baru Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (11/4/2026)
TRIBUNJATIM.COM LAMONGAN – Kenaikan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai dirasakan para pedagang dan pelaku usaha kecil di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Mulai dari pedagang sayur di pasar tradisional, penjual gorengan, warung makan, hingga pedagang kaki lima (PKL) mengeluhkan biaya operasional yang semakin membengkak.
Harga kantong plastik, plastik kemasan, gelas plastik, hingga mika makanan dilaporkan mengalami kenaikan antara 100 persen dibanding awal tahun.
Kondisi tersebut membuat para pedagang harus memutar otak agar tetap bisa berjualan tanpa harus menaikkan harga dagangan terlalu tinggi.
Salah satu pedagang gorengan di seputaran Pasar Tingkat Lamongan, Sa'adah (40), mengaku kenaikan harga plastik cukup memberatkan. Sebab, setiap hari dirinya membutuhkan puluhan lembar plastik untuk membungkus dagangan pembeli.
“Biasanya satu pak plastik ukuran kecil saya beli Rp 18 ribu, sekarang sudah Rp 36 ribu. Kalau yang ukuran besar juga naik. Dalam sehari bisa habis satu sampai dua pak,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga plastik membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis. Sebab, harga gorengan yang dijualnya masih dipertahankan Rp 2.000 per biji agar pembeli tidak berkurang.
“Kalau harga gorengan dinaikkan, takut pembeli protes. Jadi ya terpaksa untungnya dikurangi,” katanya, Sabtu (11/4/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan penjual es dan minuman kemasan di kawasan Jalan Basuki Rahmat, Lamongan. Harga gelas plastik dan sedotan disebut ikut naik sehingga biaya produksi bertambah.
Seorang penjual es teh jumbo, Ahmad Wafa, mengatakan sebelumnya satu slop gelas plastik ukuran 16 ons dibeli sekitar Rp 32 ribu. Kini harganya sudah mencapai Rp 64 ribu lebih.
“Bukan cuma gelasnya, tutup plastik dan sedotan juga naik. Kalau sehari jualan 100 sampai 150 gelas, tentu pengaruhnya besar,” ujarnya.
Ia mengaku sempat mempertimbangkan menaikkan harga minuman dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per gelas. Namun, rencana itu belum dilakukan karena khawatir pembeli beralih ke pedagang lain.
“Persaingan sesama PKL cukup ketat. Kalau harga naik sendiri, nanti pembeli pindah,” tuturnya.
Tidak hanya pedagang kaki lima, para penjual di pasar tradisional juga terkena imbas. Pedagang daging, ikan, hingga bumbu dapur di Pasar Sidoharjo Lamongan mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli plastik pembungkus.
Seorang pedagang ayam potong, , Khsunul Khotimah (55) mengatakan kenaikan harga plastik membuat pengeluaran harian bertambah hingga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu.
“Kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung sebulan bisa ratusan ribu. Padahal kondisi pasar sekarang juga belum ramai,” katanya.
Menurutnya, para pedagang sulit menghindari penggunaan plastik karena sebagian besar pembeli masih meminta barang dibungkus menggunakan kantong plastik. Terlebih untuk produk basah seperti daging dan ikan.
“Kalau tidak pakai plastik, pembeli kadang komplain. Apalagi untuk ayam dan ikan, harus dibungkus rapat,” ujarnya.
Kenaikan harga plastik juga berdampak pada penjual makanan siap saji yang menggunakan mika dan kotak plastik untuk kemasan. Harga mika makanan ukuran sedang disebut naik cukup signifikan.
Seorang penjual nasi ayam geprek di Lamongan kota, Qotrin, mengaku sebelumnya satu pak mika berisi 50 buah dibeli seharga Rp 22 ribu. Kini harganya naik menjadi sekitar Rp 44 ribu.
“Kalau pesanan online sedang ramai, penggunaan mika bisa sangat banyak. Jadi kenaikannya langsung terasa,” katanya.
Ia mengaku belum berani menaikkan harga menu makanan karena daya beli masyarakat dinilai masih lemah. Untuk menyiasatinya, ia mulai mengurangi penggunaan kemasan tambahan seperti sendok plastik dan kantong berlapis.
“Kami sekarang kalau pembeli makan di tempat tidak lagi diberi kemasan sekali pakai. Kalau pesan dibawa pulang baru pakai,” ujarnya.
Di sisi lain, sebagian PKL mulai mencari alternatif agar biaya operasional tidak terus meningkat. Ada yang mengganti kantong plastik dengan kertas pembungkus, daun pisang, atau meminta pembeli membawa wadah sendiri.
Pedagang pecel lele di kawasan Lamongan Plaza, misalnya, mulai mengurangi penggunaan kantong plastik tambahan dan hanya menggunakan satu lapis bungkus.
“Kalau dulu sambal, lalapan, dan nasi dipisah pakai beberapa plastik kecil. Sekarang disederhanakan supaya hemat,” kata salah seorang pedagang.
Meski demikian, penggunaan bahan pengganti dinilai belum sepenuhnya bisa diterapkan. Selain karena harga alternatif ramah lingkungan juga relatif mahal, sebagian pembeli masih lebih memilih kemasan plastik karena dinilai praktis.
Sejumlah pedagang berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, baik melalui pengendalian harga maupun bantuan bagi pelaku UMKM dan PKL.
Mereka menilai kenaikan harga plastik menambah daftar panjang beban pedagang setelah sebelumnya harga bahan pokok dan kebutuhan usaha lain ikut naik.
“Sekarang yang naik bukan cuma bahan makanan, tapi plastik juga. Sementara pembeli maunya harga tetap murah. Jadi pedagang serba salah,” ujar seorang PKL.
Para pelaku usaha kecil di Lamongan berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Sebab, jika harga plastik terus naik, mereka khawatir terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran dan kualitas dagangan.
Bagi pedagang kecil, plastik memang terlihat sebagai kebutuhan sederhana. Namun di tengah usaha yang serba pas-pasan, kenaikan harga plastik sekecil apa pun tetap berpengaruh besar terhadap keuntungan mereka.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Januar

No comments: