Pihak keluarga prajurit TNI AL asal Bangkalan, Ghofirul Kasyfi (22), melalui kuasa hukumnya Muhammad Sholeh, secara tegas membantah pernyataan Koarmada I terkait penyebab kematian almarhum yang disebut murni gantung diri.
Keberatan ini didasari atas temuan luka lebam di sekujur tubuh saat peti jenazah dibuka, serta serangkaian pesan WhatsApp terakhir korban, yang mengisyaratkan adanya tekanan dan kekerasan di tempat dinasnya.
Semua kejanggalan yang dirasakan dan dilihat keluarga itu, akan menjadi bukti kuat untuk menuntut transparansi dan autopsi ulang.
Lebam dan Pesan Terakhir Versi Kuasa Hukum
Kuasa hukum keluarga almarhum, Muhammad Sholeh atau Cak Sholeh, menegaskan adanya temuan lebam pada tubuh Ghofirul saat keluarga membuka peti jenazah pada Senin (27/4/2026).
Pernyataan ini sekaligus menjawab keterangan tertulis pihak Koarmada I TNI AL yang menyebut kematian tersebut murni gantung diri.
Cak Sholeh mengungkapkan, kecurigaan keluarga bermula dari komunikasi korban melalui pesan WhatsApp sebelum kejadian.
Almarhum sering mengeluh kepada orang tuanya mengenai kekerasan yang dialaminya.
"Bahkan korban Ghofirul meminta dipindah (dari kapal) secepatnya, kalau tidak dipindah secepatnya maka tidak akan bisa bertemu lagi dengan korban. Terbukti, faktanya, akhirnya korban Ghofirul meninggal dunia," ungkap Sholeh, Rabu (6/5/2026).
Mendiang Ghofirul, yang baru dilantik sebagai Tamtama pada Desember 2025, mulai berdinas di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat, Jakarta, sejak Februari 2026.
Selama hampir tiga bulan, almarhum menjalani masa orientasi, namun ia meninggal dunia sebelum masa tersebut usai.
Terkait proses autopsi, Cak Sholeh mengakui sempat ada perdebatan antara ayah dan ibu korban, di mana sang ibu semula menolak sementara ayahnya menghendaki.
"Tetapi faktanya setelah peti jenazah datang dan dibuka, ada bukti lebam-lebam pada dada, juga di selangkangan ada luka di alat kemaluan, juga di kaki ada lebam" jelas Sholeh.
"Untuk membuktikan apakah betul terjadi kekerasan, maka bapak korban sudah mengajukan permohonan kepada Koarmada untuk dilakukan autopsi," lanjutnya.
Cak Sholeh menambahkan, autopsi penting untuk menjawab keraguan, termasuk ketiadaan bukti-bukti saat mayat pertama kali ditemukan di kapal.
No comments: