Damai, Orangutan KBS yang mati pada 2021 diduga karena sakit. (Foto: dok. Deny Prastyo/detikJatim)
Surabaya - Ada 2 satwa yang mati selama periode 2016-2024. Itu adalah periode di mana eks Dirut KBS Choirul Anwar diduga melakukan korupsi dana operasional termasuk pakan hewan hingga merugikan negara mencapai Rp 10,2 miliar. Saat ini Choirul Anwar telah ditetapkan sebagai tersangka.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sempat membantah adanya satwa KBS yang mati di zaman kepemimpinan Wali Kota Tri Rismaharini. Ia menyebut kematian satwa terjadi sebelum periode KBS dipimpin Choirul Anwar.
"Oh enggak ada. Jadi yang sejak zaman Bu Risma sudah tidak ada hewan yang mati itu. Hewan yang mati itu adalah ketika sebelum tahun 2016," kata Eri kepada wartawan, Selasa (28/7/226).
Namun, berdasarkan berita dari detikcom, selama periode 2016-2024 saat Choirul Anwar eks Dirus KBS diduga melakukan korupsi, tercatat ada 2 satwa yang mati. Bahkan kematiannya terjadi di tahun ketika Eri Cahyadi sudah menjabat sebagai Wali Kota Surabaya.
Dumbo, anak gajah KBS mati di usia 2 tahun 6 bulan pada 2021. Gajah itu diduga mati karena penyakit elephant herpesvirus atau virus herpes. Di tahun yang sama, Damai orang utan KBS juga mati di usia 10 tahun pada 28 November 2021 akibat sakit gangguan organ jantung dan hati.
Melihat data dari pemberitaan kematian dua satwa KBS tahun 2021, Eri mengatakan, ketika ada hewan yang mati juga tercantum ketika audit. Seperti penyebab kematian dan lainnya.
Dumbo, anak gajah di KBS yang mati pada 2021 disebut karena sakit. (Foto: Istimewa/dok. KBS)
"Ketika ada matinya hewan itu, itu ada auditnya. Matine perkoro tuwo, perkoro loro opo perkoro pakane kurang. Lah lek saiki wayahe tuwo yo wayahe, Pak. Lak enggak mati-mati, koyo awak dewe (manusia), terus yo opo tuwo enggak mati-mati? Lah terus sama juga dilihat karena sakit. Maka itulah ada yang namanya yang dilihat oleh BKSDA," ujarnya.
Eri memastikan bahwa sejumlah satwa yang dilaporkan mati pada 2021 dipastikan bukan akibat adanya kelalaian. Terutama dikaitan dengan dana operasional termasuk pakan yang diduga dikorupsi oleh Choirul Anwar.
"BKSDA itu akan dilihat apakah dia itu matinya memang wajar atau matinya memang karena kelalaian. Tidak ada laporan sejak saat itu mati karena kelalaian," tegasnya.
Ia juga menyampaikan catatan kenapa dirinya menyampaikan laporan warga kepada kejaksaan. Awal mula laporan itu berangkat dari neraca keuangan KBS di mana dividen tercatat Rp18 miliar, tapi di kas hanya ada Rp10 miliar.
"Rp8 miliar e enggak ono. Tapi tidak ada yang satwanya itu sakit, satwanya itu kurus, itu tidak ada," ujarnya.
Dia pun meminta, foto kondisi satwa mati foto mati untuk dilihat tahun berapa. Bahkan dia menyebut Surabaya sudah mendapatkan akreditasi B dari Menteri Lingkungan Hidup terkait dengan satwanya.
"Yang kedua, di Surabaya itu sejak tahun 2022 setiap tahun akan diaudit dan dilihat hewannya sejahtera atau tidak oleh BKSDA. Bahkan disampaikan kalau kematian seperti sakit, kurus, itu 0 sampai dengan 10 ya. Itu kita masih di bawahnya jauh sekitar 6 koma, 5 koma dan salah satu kebun binatang terbaik adalah di Kota Surabaya," pungkansya.
No comments: