Ayatulloh (41) tak pernah menyangka warung gorengan dan kopi yang menjadi tempatnya mencari nafkah selama hampir 10 tahun justru menjadi ruang baginya untuk mendengar berbagai persoalan warga. Dari percakapan dengan pelanggan dan warga yang datang ke warungnya, Ayatulloh mulai mengetahui beragam keluhan masyarakat Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Bahkan, sejumlah warga yang kerap berbincang dengannya di warung mendorong Ayatulloh untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. “Banyak saudara yang berbicara. Katanya, udah nyalon aja lu besok. Jadi istilahnya saya diusung sama warga,” ujar Ayatulloh saat ditemui Kompas.com, Minggu (27/9/2026).
Buruh pabrik hingga staf desa
Dari berjualan gorengan dan kopi, Ayatulloh memperoleh keuntungan sekitar Rp 200.000-300.000 per hari.
Setiap hari, ia mulai berjualan pukul 15.00 WIB hingga subuh. Jauh sebelum berjualan gorengan, Ayatulloh sempat bekerja sebagai buruh pabrik. Namun, ketika hendak dimutasi ke Kalimantan, ia memilih tidak mengambil keputusan tersebut. Pilihan itu membuatnya harus berhenti bekerja tanpa mendapatkan pesangon. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Ayatulloh bekerja sebagai pembantu tukang bangunan atau kenek. Setelah itu, ia memutuskan berjualan gorengan dan kopi. Pada 2018, Ayatulloh mendapat kesempatan bekerja di Pemerintah Desa Pahlawan Setia. Ia dipercaya menjadi staf perencanaan pembangunan desa.
Meski sudah bekerja di pemerintahan desa, Ayatulloh tetap menjalankan usaha gorengan dan kopi untuk menambah penghasilan keluarga. Rutinitas tersebut membuatnya tetap berinteraksi dengan warga. Dari warung sederhana itu pula, keinginannya untuk ikut membangun Desa Pahlawan Setia semakin kuat. Menurut Ayatulloh, keinginannya maju dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pahlawan Setia tidak hanya mendapat dorongan dari warga, tetapi juga dari orangtuanya.
Di balik keputusannya maju sebagai kepala desa, ada pesan dari sang ayah yang terus diingat Ayatulloh.
Sebelum pemilihan, ayahnya berpesan agar ia tidak menyalahgunakan anggaran desa apabila terpilih. “Nanti kalau udah jadi kepala desa, uang yang masuk ke mulut lu dan anak bini lu jangan coba-coba makan dari uang anggaran,” kata Ayatulloh menirukan pesan ayahnya.
Dicibir karena profesinya
Dukungan tersebut membuatnya berani mengikuti Pilkades Pahlawan Setia. Namun, keputusan Ayatulloh untuk maju sebagai calon kepala desa tidak selalu mendapat respons positif. Ia sempat diragukan karena tidak memiliki modal besar. Pekerjaannya sebagai penjual gorengan juga menjadi bahan cibiran. Sebagian orang mempertanyakan kemampuannya memimpin desa karena pekerjaannya sebagai penjual gorengan.
“Saya dikata-katain enggak punya uang, kok tukang gorengan nyalon lurah, nanti kalau jadi lurah bisa apa benahin desa,” katanya. Tak hanya dianggap tidak memiliki modal, Ayatulloh juga mengaku pernah diminta menjual rumah untuk membiayai pencalonannya. “Ada juga yang bilang, jual rumah, 'nanti kalau kalah nyalon lu mau tidur di mana? Di kolong jembatan?',” ujar Ayatulloh. Meski demikian, perkataan tersebut tidak membuat Ayatulloh mundur. Sebaliknya, ia menjadikan cibiran yang diterimanya sebagai dorongan untuk terus maju dalam Pilkades. “Malah itu menjadi motivasi saya buat makin semangat mencalonkan diri sebagai kepala desa,” katanya.
Terpilih jadi Kades Pahlawan Setia Setelah mengikuti rangkaian proses pemilihan kepala desa, Ayatulloh akhirnya terpilih menjadi Kepala Desa Pahlawan Setia untuk periode 2026-2034. Selama sekitar enam bulan melakukan sosialisasi dan menemui warga, ia semakin banyak mendengar persoalan yang dihadapi masyarakat. Salah satunya terkait penyaluran bantuan.
Menurut Ayatulloh, ada warga yang berharap bantuan lebih diprioritaskan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Di sisi lain, persoalan tempat pemakaman umum (TPU) juga menjadi salah satu aspirasi yang banyak disampaikan warga, terutama mereka yang tinggal di kawasan perumahan. Aspirasi tersebut kemudian masuk dalam rencana yang ingin ia perjuangkan setelah memimpin Desa Pahlawan Setia. "Ke depan saya akan prioritaskan pengadaam makam umum dan saluran drainase," kata dia.
Rela tinggalkan warung demi desa
Setelah terpilih menjadi kepala desa, Ayatulloh menyadari ada pekerjaan yang harus ia tinggalkan. Ia tidak lagi bisa menghabiskan waktu setiap sore hingga dini hari untuk berjualan seperti sebelumnya.
Ayatulloh rela kehilangan penghasilan tersebut agar dapat fokus menjalankan tugas sebagai kepala desa.
“Itu rela saya tinggalin, demi buat pemerintahan lebih baik lagi dari yang kemarin,” katanya. Meski demikian, Ayatulloh tidak ingin usaha yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan keluarganya berhenti begitu saja. Ia berencana mengembangkan usaha gorengan sebagai salah satu kegiatan ekonomi masyarakat melalui program UMKM desa.
“Nanti anggarannya ada dari pusat. Nanti kita alokasikan yang namanya BUMDes, ketahanan pangan,” ujarnya. Untuk menentukan prioritas pembangunan, Ayatulloh berencana turun langsung ke setiap wilayah dan melihat persoalan yang dihadapi warga. Kini, ia ingin fokus menjalankan tugas dan membangun Desa Pahlawan Setia bersama masyarakat. “Yang penting buat saya, saya akan bangun Desa Pahlawan Setia dan saya akan berbuat amanah. Itu yang saya lakukan,” ujar dia.
| SPREI AKIKO POLOS 90 MARON |
| SELIMUT JOVANKA POLOS 160 BLUE DENIM Baca Juga : |
No comments: