Mengapa Masih Banyak Siswa Belum Capai Kompetensi Minimum Matematika?

  



Hasil literasi matematika di Program for International Student Assessment (PISA) Indonesia Tahun 2025 menunjukkan baru sekitar 16,97 persen siswa yang bisa mencapai kompetensi minimal. Menurut Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati, saat ini siswa masih kesulitan untuk menerjemahkan soal matematika ke kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pada siswa yang sudah mencapai kompetensi minimum, sudah memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah matematika dengan pendekatan kehidupan sehari-hari. Kemudian, sebelum memberikan solusi pada masalah tersebut, anak diminta untuk menerjemahkan rumus dari masalah matematika. “Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya tinggal menghitung, tinggal mencari penjelasan berapa,” kata Rahmawati di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).


Bukan sekadar mengkomputasi, tapi memformulasikan bahasa


Rahmawati menambahkan, dalam literasi matematika pada soal PISA anak tidak hanya diminta untuk memecahkan masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi juga harus bisa menerjemahkan soal tersebut ke rumusan matematika. "Ini memerlukan kemampuan yang lain. Bukan sekadar mengkomputasi, tapi bagaimana memformulasikan bahasa sehari-hari ke dalam bahasa matematika," ungkapnya. “Dan kebanyakan gagal mencapai level 2 (minimum) isunya di sana. Membahasakan bahasa sehari-hari, ke dalam rumus matematika,” jelas Rahmawati. Sebelumnya Rahmawati, juga menjelaskan skor PISA di bidang matematika mengalami penurunan skor sebanyak dua poin. Pada tahun 2022 skor PISA matematika sebesar 366 lalu pada tahun 2025 menurun menjadi 364. “Matematika ada penurunan dua poin,” kata Rahmawati.

Jika dirincikan, skor PISA Indonesia tahun 2025 yakni, bidang sains sebesar 389 atau peringkat 73 dari 91 negara. Kemudian membaca skornya senesar 365 atau peringkat 74 dari 90 negara, sementara skor matematikanya sebesar 364 atau peringkat 78 dari 90 negara. Selanjutnya jika dilihat dari kompetensi minimal pada bidang sains yang berhasil mencapai hanya 36,81 persen, membaca 27,11 persen, dan matematika 16,93 persen.

“Dari persentase yang mencapai kompetensi minimum, ada peningkatan juga di bidang sains dan membaca,” ungkapnya.

Hasil PISA juga menunjukkan Indonesia berhasil memperluas akses pendidikan secara masif tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran. PISA adalah asesmen global yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemamluan literasi membaca, matematika dan sains. Hasil PISA diambil menggunakan sampel siswa berusia 15 tahun di seluruh dunia. Negara peserta OECD total ada 91 negara.


Mengapresiasi pencapaian Indonesia yang dinilai berhasil mengatasi tantangan


Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, mengapresiasi pencapaian Indonesia yang dinilai berhasil mengatasi tantangan yang masih dihadapi banyak negara yaitu memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas.

Data OECD menunjukkan bahwa siswa usia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan yang termasuk salah satu yang tertinggi, serta telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri.

Menindaklanjuti hasil PISA 2025, Kemendikdasmen menetapkan empat pilar strategi utama. Pertama, kompetensi guru melalui kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta penguatan kompetensi pedagogik dan digital termasuk koding dan kecerdasan buatan. Kedua, peningkatan kualitas pembelajaran melalui penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, dan penguatan literasi-numerasi serta karakter siswa. Ketiga, harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi bernalar pada kerangka PISA.

Keempat, penguatan peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan penguatan kemitraan orangtua dalam pembelajaran mendalam. Sebagai penunjang, Kemendikdasmen menyediakan sejumlah platform pembelajaran dan asesmen yang dapat diakses guru dan murid secara mandiri, di antaranya Perangkat Ajar Ruang GTK (guru.kemendikdasmen.go.id/perangkat-ajar), Ruang Murid (rumah.pendidikan.go.id/ruang/murid), serta portal simulasi dan latihan asesmen Pusmendik (pusmendik.kemendikdasmen.go.id).

SELIMUT JOVANKA POLOS 160 BLUE DENIM


SUMBERhttps://edukasi.kompas.com/read/2026/09/10/082956671/mengapa-masih-banyak-siswa-belum-capai-kompetensi-minimum-matematika?source=personalisasi


SPREI CALIFORNIA 180 FALLON

Baca Juga :

Mengapa Masih Banyak Siswa Belum Capai Kompetensi Minimum Matematika? Mengapa Masih Banyak Siswa Belum Capai Kompetensi Minimum Matematika? Reviewed by MEDIA WONGPASAR on 9:05 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.