|
|
Surabaya - Sejumlah wilayah di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir mengalami dua fenomena cuaca yang dirasakan masyarakat secara bersamaan. Pada malam hingga pagi hari, suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Sementara pada siang hingga sore hari, hembusan angin bertiup lebih kencang, terutama di kawasan Malang Raya dan sekitarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kedua fenomena tersebut merupakan karakteristik musim kemarau yang dipengaruhi menguatnya angin muson timur serta fenomena bediding. Selain itu, kondisi musim kemarau tahun ini juga berpotensi diperkuat oleh pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang membuat cuaca semakin kering.
Bediding Bikin Malam hingga Pagi Terasa Lebih Dingin
Prakirawan BMKG Juanda Restina Wardhani mengatakan suhu udara di Surabaya dan sekitarnya masih akan terasa dingin pada malam hingga pagi hari setidaknya dalam dua hari ke depan.
"Diprakirakan dalam 2 hari ke depan fenomena ini (suhu dingin saat malam sampai pagi hari) masih dirasakan. Prakiraan suhu terendah di Surabaya dan sekitarnya 22-23 derajat celcius," kata Restina saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (24/7/2026).
Menurut Restina, suhu dingin tersebut merupakan fenomena bediding, yakni kondisi yang umum terjadi pada musim kemarau akibat minimnya tutupan awan. Ketika langit cerah, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara menjadi lebih rendah.
Meski demikian, Restina menegaskan fenomena bediding tidak selalu muncul sepanjang musim kemarau.
"Selama musim kemarau fenomena bediding dapat terjadi maupun tidak," tutur Restina.
Sebelumnya, BMKG juga memperkirakan fenomena bediding masih berpotensi berlangsung hingga September 2026. Di sejumlah wilayah dataran tinggi, suhu udara bahkan dapat mencapai sekitar 15 derajat Celsius atau lebih rendah.
Angin Muson Timur Menguat
Selain suhu dingin, masyarakat juga merasakan angin bertiup lebih kencang dibandingkan biasanya. Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Linda Fitrotul, menjelaskan kondisi tersebut dipicu menguatnya angin muson timur.
"Beberapa hari terakhir angin terasa lebih kencang karena angin muson timur sedang menguat saat kemarau," ujar Linda saat dikonfirmasi, Jumat (24/7/2026).
Menurut data BMKG, kecepatan angin rata-rata mencapai sekitar 20 kilometer per jam atau 11 knot. Namun pada siang hari, kecepatannya dapat meningkat hingga sekitar 31 kilometer per jam sehingga hembusannya terasa lebih kuat.
Linda menjelaskan, pada musim kemarau massa udara dari Benua Australia yang bersifat lebih kering bergerak menuju wilayah Indonesia. Ketika angin muson timur menguat, kecepatan angin di berbagai daerah, termasuk Malang Raya, ikut meningkat.
"Ketika angin muson timur menguat, kecepatan angin di sejumlah daerah, termasuk Malang Raya ikut meningkat, sehingga hembusannya terasa lebih kencang dibanding hari-hari biasanya," katanya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Linda sehari sebelumnya saat menjelaskan fenomena angin kencang yang dirasakan masyarakat.
"Beberapa hari terakhir angin terasa lebih kencang karena angin muson timur sedang menguat. Pada periode musim kemarau, massa udara dari Australia bertiup menuju Indonesia dan dapat meningkatkan kecepatan angin di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur," ujar Linda saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026)
BMKG juga mencermati adanya pengaruh fenomena iklim global yang berpotensi memperkuat karakter musim kemarau tahun ini. Dua fenomena yang dimaksud adalah El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Menurut Linda, kondisi tersebut dapat menyebabkan cuaca semakin kering, angin bertiup lebih kencang, sekaligus meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang rentan.
"Kondisi ini perlu diwaspadai karena terdapat potensi pengaruh El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memperkuat karakteristik musim kemarau. Dampaknya antara lain cuaca cenderung lebih kering, angin lebih kencang, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang rentan," lanjutnya.
Ia juga kembali menegaskan bahwa kombinasi angin muson timur dengan dinamika iklim global membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi dampaknya.
"Dampaknya antara lain cuaca cenderung lebih kering, angin lebih kencang, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang rentan," tambah Linda.
Seiring kondisi cuaca tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas, terutama di luar ruangan.
Pada siang hari, warga disarankan menghindari paparan sinar matahari secara langsung. Sementara ketika angin bertiup kencang, masyarakat diminta mewaspadai potensi pohon tumbang, baliho roboh, maupun kerusakan atap rumah yang tidak terpasang dengan kuat.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka selama musim kemarau karena berisiko memicu kebakaran hutan maupun lahan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi pohon tumbang, baliho atau atap yang kurang kokoh akibat angin kencang, serta menghindari pembakaran terbuka yang dapat memicu kebakaran selama musim kemarau," imbau Linda.
Dengan masih berlangsungnya musim kemarau di Jawa Timur, BMKG mengingatkan masyarakat agar terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi atmosfer yang dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
No comments: