Dari Limbah Peternakan Menjadi Peluang Usaha: Petani dan Peternak Desa Tales Belajar Budidaya Maggot
Limbah organik dari kegiatan peternakan tidak selalu harus berakhir sebagai buangan. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah tersebut dapat dimanfaatkan kembali dan bahkan memiliki nilai ekonomi.
Gagasan inilah yang diperkenalkan kepada masyarakat Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, melalui kegiatan sosialisasi dan praktik budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot yang dilaksanakan oleh Tim Dosen Pulang Kampung IPB University.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (15/8/2026) tersebut diikuti oleh 24 orang petani dan peternak serta 9 orang perangkat Desa Tales. Berbeda dengan kegiatan sosialisasi yang hanya berfokus pada penyampaian materi, peserta dalam kegiatan ini juga diajak berdiskusi, mendengarkan pengalaman pelaku usaha, dan mempraktikkan secara langsung budidaya maggot.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan perkenalan tim dosen. Irwanto, sebagai perwakilan Kepala Desa Tales, dalam sambutannya menyampaikan, kehadiran tim dosen disambut baik karena kegiatan memberikan tambahan wawasan yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi masyarakat setempat.
Maggot dan Konsep Zero Waste
Pengenalan mengenai maggot disampaikan oleh Luvy Dellarosa, ST, MT. Peserta mendapatkan pemahaman dasar mengenai Black Soldier Fly serta pemanfaatannya dalam pengelolaan bahan organik.
Dalam pemaparannya, maggot diperkenalkan sebagai salah satu alternatif yang dapat mendukung pengelolaan limbah melalui pendekatan zero waste. Bagi masyarakat yang bergerak di bidang peternakan, pengelolaan bahan organik menjadi penting karena bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diarahkan menjadi bagian dari suatu siklus pemanfaatan.
Konsep tersebut juga berkaitan dengan ekonomi sirkular, yaitu bagaimana sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sehingga menghasilkan manfaat baru.
Tidak Berhenti pada Maggot, Ada Kasgot yang Bisa Dimanfaatkan
Selain maggot, peserta juga diperkenalkan dengan produk samping dari proses budidayanya. Ririh Sekar Mardisiwi, SP, M.Si. menyampaikan materi mengenai kasgot sebagai media tanam di bidang pertanian.
Materi ini memperluas pemahaman peserta bahwa budidaya maggot dapat menghasilkan lebih dari satu bentuk manfaat.
Jika maggot dapat dimanfaatkan dalam konteks kegiatan peternakan dan pengembangan usaha, produk sampingnya juga berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Dengan pendekatan tersebut, peserta diajak melihat budidaya maggot sebagai suatu rangkaian pemanfaatan sumber daya, bukan sekadar kegiatan memelihara serangga.
Belajar dari Pengalaman Nyata
Antusiasme peserta kemudian dilanjutkan melalui sesi sharing pengalaman yang menghadirkan Bapak Nasrul Ulum. Pengalaman beternak sekaligus mengembangkan usaha maggot menjadi bahan diskusi yang memberikan perspektif berbeda kepada peserta.
Melalui sesi ini, peserta dapat melihat bagaimana pengetahuan mengenai maggot dapat diterapkan dalam kegiatan nyata. Diskusi juga memberikan ruang bagi peserta untuk menggali informasi mengenai pengalaman, peluang, serta tantangan yang mungkin ditemui ketika budidaya maggot dikembangkan sebagai usaha.
Peserta Langsung Mempraktikkan Budidaya Maggot
Setelah memperoleh penjelasan dasar dan mendengarkan pengalaman praktis, peserta mengikuti praktikum budidaya Black Soldier Fly dan produk olahannya.
Praktikum menjadi bagian penting dari kegiatan karena peserta tidak hanya menerima informasi secara teoritis. Dengan melihat dan mengikuti proses secara langsung, peserta memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai bagaimana budidaya maggot dapat dilakukan dan dikembangkan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Rangkaian pembelajaran juga dilengkapi dengan pre-test dan post-test sebagai bagian dari evaluasi kegiatan.
Baca Juga :
- Enam Pesan Presiden Prabowo ke Polri di Hari Bhayangkara
- Sembunyikan 624 Pil Dobel L di Organ Intim, Wanita di Blitar Ini Ternyata Sudah 2 Kali Beraksi
No comments: