Benarkah Tavares Memainkan Sepak Bola Pragmatis di Persebaya?

  


Persebaya kembali ke jalur kemenangan pada pekan keempat Super League 2026-27. Tak hanya memperoleh tiga poin berkat gol tunggal Alex Martins melalui titik putih penalti ke gawang Isenmulang Kalteng FC pada menit 45+3, Persebaya belum tersentuh kekalahan sama sekali.

Persebaya adalah satu dari enam klub yang belum terkalahkan hingga pekan keempat. Lima klub lainnya adalah Persija Jakarta, Dewa United, Persita Tangerang, Arema FC, dan Bhayangkara Presisi Lampung FC.

Kendati merebut hasil positif di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Jumat (9/10/2026), lagi-lagi permainan Persebaya jauh dari memuaskan. Kehilangan Francisco Rivera yang mengalami cedera otot betis memperparah kondisi Persebaya: mereka seperti kehilangan perekat tim dan otak permainan.

Racikan Bernardo Tavares dinilai Bonek belum cukup meyakinkan untuk bersaing di jalur juara. Di antara enam klub yang belum terkalahkan, produktivitas Persebaya paling menyedihkan: empat gol, dengan tiga gol di antaranya dicetak Alex Martins.

Dibandingkan produktivitas P:ersija (8 gol), Dewa United (10 gol), Persita (8 gol), Arema (10 gol), Bhayangkara (7 gol), Persebaya jelas jauh tertinggal. Mengacu data statistik di situs resmi Persebaya, anak asuh Tavares hanya berhasil mengonversi 8,3 persen total tembakan ke gawang lawan selama empat pertandingan (48 tembakan) menjadi gol. Menyedihkan.

Usai pertandingan, Kukuh Ismoyo, anggota Bonek Writers Forum, mengunggah tamgkapan layar percakapan soal Bernardo Tavares. Di sana disebutkan bahwa Tavares tahu betul bahwa Bonek menyoroti tajam gaya main Persebaya. Namun dia bergeming dan akan tetap menjalankan skema taktik selama ini.

Di sinilah agaknya tudingan bahwa Tavares sosok pragmatis menguat. Orang membandingkannya dengan sejawatnya asal Portugal, Jose Mourinho. Tapi benarkah Tavares menganut sepak bola pragmatis di Persebaya?

Sebagaimana dunia filsafat, ada benturan abadi antara pragmatisme dan idealisme di dunia sepak bola. Dalam pragmatisme, konsep dan teori tidak mencerminkan realitas. Teori adalah instrumen dan rencana aksi untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Gabung Shopee Affilate

Sementara idealisme didasarkan pada prinsip-prinsip moral dan kesempurnaan yang terkadang mengabaikan hambatan maupun kesulitan saat diterapkan. Dengan kata lain, para idealis menolak menyerah dengan keadaan dan menampik untuk berkompromi dengan kondisi yang ada sesulit apapun.

Jonathan Wilson dalam buku Inverting The Pyramid: The History of Soccer Tactics menyebut sejarah taktik sepak bola adalah sejarah ketegangan antara estetika dengan hasil akhir di satu sisi, dan teknik versus fisik di sisi lain.

“What confuses the issue is that those who grow up in a technical culture tend to see a more robust approach as a way of getting results, while those from a physical culture see pragmatism in technique; and beauty – or at least what fans prefer to watch – remains very much in the eye of the beholder.”

Suporter Persebaya tumbuh dengan menyaksikan dua tradisi sepak bola Surabaya yang kemudian menjadi postulat: pembinaan pemain berkesinambungan dan gaya bermain ofensif yang lugas.

Bonek tumbuh dengan folklore tentang pemain-pemain yang sebagian besar adalah produk pembinaan internal klub. Keberhasilan Rusdi Bahalawan dan Jacob Sihasale menjebol gawang Ajax Amsterdam di Gelora 10 Nopember pada 11 Juni 1975, kedahsyatan tandukan Sang Kepala Emas Syansul Arifin, ketajaman Mustaqim, Jacksen F, Tiago, David da Silva, dan filosofi ‘coming from behind’ Persebaya era 1996-97, tak ubahnya legenda urban sepak bola Surabaya.

Bahkan pada saat berkompetisi dalam breakaway league Liga Primer Indonesia, Persebaya dilatih dua sosok berfilosofi sepak bola ofensif Aji Santoso dan Divaldo da Silva Teixeira Alves. Berhadapan dengan Queens Park Rangers, klub Liga Primer Inggris, dalam sebuah laga persahabatan pada 2012, Persebaya bermain menyerang dan hanya kalah 1-2, sementara klub Malaysia Sabah XI dan Kelantan FA dihajar masing-masing 0-5.

Sepak bola menyerang, trengginas, dan mengandalkan operan-operan pendek masih menjadi ciri khas Persebaya saat dilatih Angel Alfredo Vera, Djajang Nurjaman, dan Aji Santoso di Liga 1 yang belakangan berubah nama menjadi Super League. Dari tujuh musim yang dijalani, enam musim di antaranya berakhir dengan posisi enam besar klasemen. Bahkan pada musim 2019, Persebaya berada di posisi runner-up.

Kultur panjang sepak bola menyerang, trengginas, dan enak ditonton inilah yang kemudian membentuk ekspektasi dan sudut pandang Bonek dalam menilai kinerja pelatih. Masalahnya, sepak bola menyerang saja tidak cukup untuk mencetak trofi. Terakhir Persebaya menjadi juara kompetisi level tertinggi negeri ini pada 2004 saat dilatih Jacksen F. Tiago.

Maka setiap pelatih yang datang ke Persebaya akan dihadapkan pada dua beban: bermain cantik dan mendapatkan trofi. Ini sesuatu yang tak selamanya berbanding lurus. Situasi yang sama dihadapi semua pelatih Manchester United pasca Alex Ferguson. Bahkan pelatih sekelas Jose Mourinho dan Louis van Gaal gagal memenuhi harapan fans United.

Pelatih yang gagal menyajikan permainan menyerang yang enak ditonton namun menuai kemenangan akan dianggap pragmatis oleh Bonek. Paul Munster dan Edu Perez adalah dua contoh sosok pelatih pragmatis selain Bernardo Tavares menurut Bonek.

Namun sesungguhnya tak semudah itu menilai seorang pelatih menganut filosofi sepak bola pragmatis. Pragmatisme dalam sepak bola dilihat dari dua hal: lawan yang akan dihadapi dan kedalaman skuad yang dimiliki. Sosok pelatih pragmatis seperti Jose Mourinho adalah sosok yang tahu kapan harus bermain ofensif dan kapan harus bermain bertahan dengan sabar.

Di bawah komandonya pada musim 2004–2007 dan 2013–2015, Chelsea mencetak total 377 gol yang menobatkannya sebagai pelatih dengan jumlah gol terbanyak sepanjang sejarah Chelsea di Premier League.

Rekor gol fantastis juga dicatatkan Mourinho saat berada di Spanyol. Real Madrid. Madrid mencetak 121 gol dalam  38 pertandingan La Liga Musim 2011–2012 dan mencetak total 174 gol di semua kompetisi.

Rata-rata penguasaan bola (ball possession) Mourinho selama menangani Chelsea di Premier League adalah 56 persen yang berarti dominan. Persentase yang kurang lebih sama juga ditunjukkannya saat melatih Madrid pada 2010-2013.

Namun memori selektif publik saat Inter Milan menghadapi Barcelona yang diasuh Pep Guardiola dalam semifinal Liga Champions 2009-10 membuat Mourinho identik dengan filosofi parkir bus. Saat bermain di San Siro, Inter hanya menguasai 29 persen permainan, namun berhasil membekuk Barcelona 3-1.

Kondisi Mou berbanding terbalik dengan Bernardo Tavares di Persebaya pada musim 2026-27. Dalam empat pertandingan pertama, rata-rata ball possession Persebaya hanya 42,5 persen. Alih-alih melakukan pressing atau bahkan high pressing sebagaimana ditunjukkan Persebaya pada era Aji Santoso dan Alfredo Vera, Tavares menginstruksikan anak-anak asuhnya bermain menunggu dengan mengandalkan serangan balik cepat. Hasilnya: rata-rata Persebaya hanya mencetak satu gol per pertandingan.

Taktik Tavares ini bukannya tanpa risiko. Minim gol membuat pertahanan Persebaya bekerja lebih keras karena potensi lawan untuk menyamakan kedudukan atau bahkan membalik keunggulan pada menit-menit krusial cukup besar. Ini sudah terbukti saat Persebaya menghadapi Bhayangkara dan Garudayaksa.

Persebaya memang belum terkalahkan. Namun empat lawan yang sudah dihadapi relatif tidak berat jika dilihat dari komposisi pemain masing-masing. Green Force belum berjumpa lawan dengan materi pemain lebih mengkilap seperti Persija, Persib, atau Bali United. yang bakal memberikan ancaman intens ke zona pertahanan yang dikawal Yuran Fernandes.

Saat ini Tavares tidak bisa beralasan kualitas skuad Persebaya di bawah rata-rata empat tim pertama yang sudah dihadapi. Dari aspek perkiraan market value (nilai pasar), skuad Persebaya lebih mahal daripada Bhayangkara, PSIM, dan Isenmulang Kalteng FC, dan kurang lebih sama dengan Garudayaksa yang didirikan Presiden Prabowo Subianto.

[Berdasarkan perkiraan nilai pasar yang dilansir Transfermarkt musim 2026-27, harga skuad Persebaya di pasaran mencapai Rp107,33 miliar, sementara Bhayangkara Presisi Lampung FC Rp86,21 miliar, PSIM Rp84,30 miliar, Garudayaksa Rp108,20 miliar, dan Isenmulang Jalteng FC Rp53,1 miliar]

Lebih dari itu, skuad Persebaya musim ini dipilih oleh Tavares sendiri dengan masa persiapan cukup panjang. Dengan kata lain, tidak ada alasan Persebaya bermain buruk dan hanya mengandalkan ‘ugly win’.

Bonek tak ingin kisah Paul Munser berulang. Racikan pelatih asal Irlandia Utara itu berhasil membawa Persebaya berjaya di puncak klasemen pada putaran pertama. Selanjutnya Persebaya kesulitan untuk menaklukkan lawan dan kehilangan tiga poin.

Sebenarnya keberhasilan Persebaya menjuarai Piala Presiden sempat menerbitkan harapan terhadap Tavares. Namun kemudian hampir semua pandit dan komentator sepak bola negeri ini bingung melihat performa Persebaya dalam empat laga awal Super League yang tidak menunjukkan kualitas tim juara.

Bonek bertanya-tanya. Namun dari empat laga awal Persebaya, setidaknya orang bisa menilai bahwa Tavares bukanlah sosok pelatih pragmatis sebagaimana Mourinho. Masalahnya: layakkah skuat semahal itu hanya bermain dengan gaya yang bikin dongkol suporter?

Memang, tidak ada formulasi permainan yang pasti benar dan menjamin gelar juara. Namun agaknya kita perlu menyimak apa yang ditulis Jonathan Wilson.

If there is one thing that distinguishes the coaches who have had success over a prolonged period – Sir Alex Ferguson, Valeriy Lobanovskyi, Bob Paisley, Boris Arkadiev – it is that they have always been able to evolve. Their teams played the game in very different ways, but what they all shared was the clarity of vision successfully to recognise when the time was right to abandon a winning formula and the courage to implement a new one.

Semua pelatih top yang memiliki sukses jangka panjang, menurut Wilson, memiliki kesamaan berupa kejernihan visi untuk mengenali saat yang tepat meninggalkan formula kemenangan dan keberanian untuk menerapkan formula baru.

Kita tidak tahu apakah Tavares memiliki visi itu, ataukah dia memiliki pandangan sebagaimana Alf Ramsey, manajer tim nasional Inggris yang memenangi Piala Dunia 1966: “Saya dipekerjakan untuk memenangi pertandingan sepak bola. Hanya itu.”

Jika Tavares memilih jalan Ramsey dengan mengabaikan kritik suporter, mari kita tunggu saja apakah Persebaya akan merayakan seratus tahun usianya dengan kembali mengangkat trofi kasta tertinggi kompetisi sepak bola negeri ini, ataukah kembali memperpanjang mimpi juara liga.


SELIMUT BEDCOVER AKIKO 190 X 210 FILO

SUMBER : https://beritajatim.com/benarkah-tavares-memainkan-sepak-bola-pragmatis-di-persebaya
SELIMUT JOVANKA 160 X 200 GENEVA



Baca Juga : 

Benarkah Tavares Memainkan Sepak Bola Pragmatis di Persebaya? Benarkah Tavares Memainkan Sepak Bola Pragmatis di Persebaya? Reviewed by wongpasar grosir on 8:44 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.