| Ibu di Surabaya cari anaknya yang dibawa suami ngemis/Foto: Istimewa |
Surabaya - Perjuangan Agustin Arimardika (33) untuk bertemu kembali dengan putrinya berinisial A (5) viral di media sosial. Selama lima bulan terakhir, warga Bagong Ginayan, Kelurahan Ngagel, Surabaya, itu mengaku belum bisa membawa pulang anaknya yang sejak awal Maret 2026 dibawa mantan suaminya, Sunardi.
Kisah tersebut memantik perhatian luas setelah Ayu, sapaan akrab Agustin, mengunggah foto dan cerita mengenai kondisi putrinya. Dalam unggahannya, ia menyebut anaknya tidak lagi bersekolah, diduga hidup berpindah-pindah bersama ayahnya, bahkan disebut beberapa warga mengemis di sejumlah lokasi di Surabaya.
"Buat kalian yg ketemu anak saya ini dimanapun, minta tolong fotoin, Ialu hubungi saya ini anak saya namanya ALUNA umur 5thn, dia di rebut paksa oleh bapaknya yg tidak bertanggung jawab, 5 bulan anak saya gk di skolahin, di ajak mbambung dan setiap hari tidurnya di pasar beralas kardus, anak saya gk dikasih makan kadang sampek dua hari, sampek badannya kurus, bajunya lusuh, bapaknya gk kerja, hanya mengandalkan uang hasil dari ngemis ke orang2, kalo gk dapat uang dari ngemis ya gak dikasih makan anak saya, sebelum di rebut paksa oleh bapaknya itu anak saya sekolah dan bertempat tinggal di tempat yg layak, saya sempat merebutnya kembali waktu saya temui di pasar itu, tapi malah saya di pukuli dan cekcok rame disitu, biasanya tidur di pasar keputran surabaya, skarang gk tau kabur kemana.
Saya gk tau lagi harus minta bantuan ke siapa lagi, krna lapor polisi pun sudah saya lakukan. Mohon banget buat kalian yg ketemu anak saya tolong fotoin dan kabarin saya," tulis Ayu di akun media sosialnya.
Unggahan lain juga memperlihatkan perbandingan kondisi sang anak sebelum dan sesudah tinggal bersama ayahnya.
"Ini foto anaksaya sebelum di rebut paksa oleh bapaknya, saya sekolahkan dan bertempat tinggal yg layak, bukan seperti sekarangyg slalu diajaktidur dijalanan, di pasar, beralas kardus, berbaju lusuh dan jarang makan. Mohon bantuannya buat kalian yg ketemu anaksaya kabarin saya," tulisnya.
Bermula dari Anak Diajak Menginap
Ayu menuturkan, dirinya telah bercerai dengan Sunardi sejak 2024 karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pada awal Maret 2026, mantan suaminya meminta izin mengajak A menginap selama libur akhir pekan.
Namun, saat hendak menjemput anaknya pada Senin untuk kembali bersekolah, Sunardi menolak menyerahkan A. Ayu mengaku sempat diminta memenuhi keinginan mantan suaminya apabila ingin membawa pulang sang anak.
"Saya nggak mau, kan sudah bukan suami istri. Saya nggak mau saya diusir, nggak usah jemput, katanya itu anaknya juga. Saya bilang masih kalem, ini waktunya sekolah, kalau libur bisa dibawa lagi. Nggak saya larang untuk ketemu. Awal mulanya seperti itu," cerita Ayu kepada detikJatim, Kamis (30/7/2026).
Sekitar dua pekan kemudian, Ayu mendatangi Pasar Keputran setelah mendapat informasi dari adik mantan suaminya mengenai kondisi A.
"Adiknya bilang 'mbak susulen ae anake sampean, aku kok sakno, anake samean nggak keramut nang kene. Wayahe makan nggak makan, wayahe mandi nggak mandi. Ayahe fokus HP terus' (mbak jemputen saja anakmu, aku kasihan, anakmu tidak terawat di sini. Waktunya makan nggak makan, waktunya mandi nggak mandi. Ayahnya fokus hp terus). Sampai keluarganya di Keputran risih, anaknya nggak direken," ujarnya.
Namun upaya mengambil anak itu berakhir gagal. Ayu mengaku dipukul, diludahi, hingga disiram air oleh mantan suaminya.
"Saya ke Pasar Keputran ambil. Nggak dibolehi, saya diajak cekcok, saya dipukuli, diludahi muka saya, saya disiram air. Maret dua hari sebelum puasa. Akhirnya nihil, soalnya saya datang sendiri, nggak bisa bawa anak saya. Uang saya di tas juga hilang, tas saya direbut Sunar, resleting juga buka. Nggak bisa bawa anak saya, akhirnya pulang nangis sejadi-jadinya. Saya nggak kontak," jelasnya.
Sempat Dibelikan baju Lebaran
Menjelang Idulfitri, Ayu sempat membelikan pakaian dan hampers untuk putrinya. Namun, menurutnya, pemberian tersebut ditolak.
"Lah kok ditolak pemberian saya, nggak boleh terima apapun dari saya bilang ke adiknya. 'Jangan terima apapun dari mamanya Aluna, wes nggak butuh klambi-klambi, ga usah nukokno klambi anakku' (sudah nggak butuh baju-baju, gak usah belikan baju anakku). Bajunya nggak kepakek, jajan nggak mau nerima," katanya.
Beberapa waktu kemudian, Ayu mendapat pesan dari warga sekitar Pasar Keputran yang mengabarkan kondisi putrinya.
"Tetangganya voice note, 'mbak jupuken ae (ambil saja) anakmu, sakno (kasihan) aku mbak, areke (anaknya) jarang mangan (makan), bapak e HP-an terus, bangun nggak mandi, nggak makan, makan nunggu belas kasihan orang-orang'. Intinya Aluna nunggu ada yang ngasih, kalau nggak ada yang ngasih ya nggak makan. Saya tanya bapake gimana, ya nggak ngapain, luntang-lantung, nggak kerja. Buktinya ada. Anaknya dibiarkan, main sendiri, dirasani sak pasar kelakuan Sunar (diomongin satu pasar kelakuannya Sunar)," cerita Ayu.
Ia juga mengaku mendapat cerita bahwa anaknya menangis karena tidak diberi minum.
"Hati ibu mana yang tega anaknya nggak bisa makan, hati saya teriris. Mau minum nangis-nangis nggak dibelikan, dibiarkan bapaknya. Ditanya Aluna kenapa nangis, karena minta minum nggak dikasih sama ayah. Kalau nggak bisa makan umum, ini loh nggak bisa minum loh. Apa nggak saking kebacute (kebangetan) bapak e. Saya nggak bisa mikir dari hari Kamis," ujarnya.
Merasa seluruh upayanya belum membuahkan hasil, Ayu akhirnya memviralkan kisah tersebut di media sosial. Setelah unggahannya ramai, ia mengaku banyak menerima pesan dari masyarakat.
"Dari situ, mungkin jalan Allah, akhirnya viral dan banyak yang DM. Katanya ngemis di Pasar Keputran, ngamen, ada yang bilang di daerah TP nggak bisa makan, minta-minta makan "minta makan, aku lapar" katanya anak saya. Sakit hatiku dengar gitu," tambahnya.
Sudah Lapor Polisi hingga DP3A
Sebelum kisahnya viral, Ayu telah meminta bantuan Polsek setempat untuk mengambil anaknya. Namun upaya itu belum berhasil sehingga ia diarahkan melapor ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Surabaya.
Menurut Ayu, laporan tersebut kini tengah diproses.
"Nunggu diekseskusi jemput paksa. Soalnya keadaan masih panas, viral dimana-mana. Nunggu waktu yang tepat katanya," kata Ayu.
Pada Rabu (29/7), Ayu juga mendapat informasi bahwa anaknya berada di Rusun Urip Sumoharjo. Bersama perangkat kelurahan, RW, dan Babinsa, ia mendatangi lokasi tersebut.
"Sudah ketemu, tapo lari Sunarnya, nggak mau nemuin. Lari dilindungi RTnya sana, dikasih uang Rp10 ribu. Lari bawa Aluna, diangkat dibawa lari sama Sunar. Info RT yang melindungi Sunar, saya dapat dari orang Keputran Kejambon. Dia WA saya, saya dikasih tahu semuanya," jelasnya.
Selain itu, Ayu juga berencana melaporkan kasus tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya.
"Saya mau lapor ke PPA Polrestabes juga. Saya diarahkan polisi juga. Kemarin sudah laporan," ujarnya.
Kasus Disebut Direspons Pemkot Surabaya
Ayu mengaku kasus yang dialaminya juga telah mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Surabaya. Menurut dia, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah merespons persoalan tersebut.
"Bu RW juga ikut tangan. Pak Eri Cahyadi juga sudah merespons, 'iya nanti dikoordinasikan sama pihak kelurahan dan kecamatan gimana caranya anak ini kembali ke ibunya'," kata Ayu.
Ia juga menyebut Wakil Wali Kota Surabaya Armuji telah mengetahui laporannya.
"Pak Armuji juga sudah notice saya. Saya yakin ini ditindaklanjuti, cuma sekarang nunggu eksekusinya," ujarnya.
Hingga kini, Ayu mengaku belum bertemu kembali dengan putrinya. Harapannya sederhana, yakni agar sang anak dapat kembali tinggal bersamanya, bersekolah, dan memperoleh kehidupan yang layak.
"Sudah 5 bulan Aluna, nggak sekolah, dan dapat info disuruh ngemis. Aluna sudah 5 tahun umurnya, sudah masuk TK nggak disekolahin anaknya. Anak saya masih hidup di jalanan," pungkasnya.
No comments: